Kamis, 01 Maret 2012

MAKALAH IMAN KEPADA ALLAH

ASALAM MUALAIKUM WAROH MATULOHI WABAROKATU

SELAMAT DATANG DI WEB WAWAN

PERGURUAN TINGGI TERBAIK





SELAMAT DATANG





WAWAN WAHYU
GFFHG

BAB I

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Islam   dan  iman  bila  disebutkan  secara   bersamaan,  maka  yang  dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun  iman  yang  enam.  Dan bila  hanya  salah satunya  (yang  disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang  lingkup  ihsan  lebih  umum   daripada  iman,  dan  iman  lebih  umum dari pada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila   ia   telah   merealisasikan   iman   dan   ihsan   lebih   spesifik   dari   sisi pelakunya;   karena   ahli   ihsan  adalah   segolongan  ahli  iman.  Maka,  setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin
Iman lebih  umum  daripada  Islam  dari  maknanya;  karena  ia  mengandung Islam.  Maka,  seorang  hamba   tidak  akan   sampai   kepada   tingkatan   iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya;  karena  ahli  iman  adalah segolongan dari ahli  Islam  (muslim), bukan   semuanya.  Maka,   setiap  mukmin  adalah   muslim   dan  tidak  setiap muslim adalah mukmin
Rukun iman yang pertama  adalah Iman Kepada Allah SWT. Maka dalam makalh ini yang akan kami sampaikan adalah pengertian Iman kepada Allah dan cara beriman kepada Allah SWT

B.      Tujuan makalah
Adapun tujuan makalah ini buat untuk :
·         Mengetahui   Pengertian   Iman   kepada   Allah   dan   bagaimana     cara melaksanakannya
·         Sebagai salah satu tugas pada mata kuliah Aqidah Akhlaq

BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Iman
Iman: Engkau beriman kepada Allah  , malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya. Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat
Dari Abu Hurairah  , ia berkata, "Rasulullah   bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim
Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat :
1.      Adapun rasanya iman, maka Nabi   menjelaskan dengan sabda-Nya: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad  sebagai rasul." HR. Muslim
2.      Adapun manisnya iman, maka Nabi   menjelaskan dengan sabdanya: Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia  merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah   dan Rasul-Nya   lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah  , dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka." Muttafaqun  'alaih
3.      Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan
dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak
 Firman Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat- Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka  bertawakkal,  (yaitu)  orang-orang yang mendirikan shalat dan   yang   menafkahkan   sebagian   dari   rejeki   yang  K ami   berikan  kepada mereka.     Itulah   orang-orang   yang   beriman   dengan   sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)
firman allah :

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada  orang-orang  muhajirin),  mereka  itulah  orang-orang  yang  benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 74)
Firman allah :
Sesungguhnya   orang-orang   yang   beriman   hanyalah   orang-orang   yang beriman  kepada  Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan  mereka  berjihad  dengan  harta  dan  jiwa  mereka  pada  jalan  Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraan :15)
Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman sehingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apapun yang luput darinya pasti tidak akan menimpanya

B.      Iman kepada Allah
Iman kepada allah mengandung 4 karakter :

1.      Beriman dengan adanya allah
Allah I telah memberikan fithrah (insting) kepada setiap makhluk untuk beriman kepada Penciptanya. Seperti firman Allah :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (terhadap atas) firman allah yang telah menciptakan manusia menurut; fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rumm :30)

Akal sehat menunjukkan bahwa alam semesta ini mempunyai sang pencipta. Sesungguhnya makhluk-makhluk ini, generasi terdahulu dan yang menyusulnya,  harus ada sang pencipta yang mengadakannya. Dia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak ada secara kebetulan. Maka, pastilah bahwa dia mempunyai pencipta. Dia-lah Allah I Rabb semesta alam. Seperti firman Allah I

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu;  sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. Ath-Thur :35-36)
Perasaan menunjukkan adanya Allah I. Sesungguhnya kita melihat silih bergantinya malam dan siang, rizqi manusia dan hewan, mengatur urusan semua makhluk, memberikan indikasi yang pasti terhadap ada-Nya I Allah mempergantikan malam dan siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (QS. An- Nur :44
Allah I memperkuat para rasul dan nabi-Nya dengan tanda-tanda dan mukjizat yang dilihat atau didengar manusia. Mukjizat merupakan perkara-perkara yang berada di luar batas kemampuan manusia. Allah I memperkuat dan menolong para rasul-Nya dengan mukjizat tersebut. Ini merupakan tanda yang pasti terhadap adanya yang mengutus mereka, Dia- lah Allah I. Seperti, Allah I membuat api menjadi dingin dan keselamatan
terhadap Ibrahim u, membelah laut bagi Musa u, menghidupkan orang mati bagi Isa u, dan membelah bulan bagi Muhammad
Sudah sekian banyak Allah I mengabulkan orang-orang yang berdoa, memberi kepada orang-orang yang meminta, menolong orang-orang yang kesusahan, yang menunjukkan ada, mengetahui, dan berkuasa-Nya I

Firman allah.
Ingatlah),   ketika   kamu   memohon   pertolongan   kepada   Rabbmu,   lalu diperkenankan-Nya   bagimu   :"Sesungguhnya   Aku   akan   mendatangkan bala bantuan  kepadamu  dengan  seribu malaikat  yang  datang  bertutut- turut". (QS. Al-Anfaal :9)
Firman allah.
dan   (ingatlah   kisah)   Ayub,  ketika  ia  menyeru  Rabbnya:"(Ya  Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang Maka  Kamipun  memperkenankan  seruannya   itu,   lalu   Kami   lenyapkan penyakit   yang   ada   padanya   dan   Kami   kembalikan   keluarganya kepadanya,  dan  Kami  lipat  gandakan bilangan  mereka,  sebagai   suatu rahmat dari sisi  Kami  dan untuk  menjadi  peringatan  bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya`:83-84)
Syara' menunjukkan adanya Allah I. Maka, hukum-hukum yang mencakup untuk segala kepentingan makhluk, dan yang diturunkan oleh Allah  I di dalam kitab- kitab- Nya terhadap para nabi dan rasul-Nya merupakan bukti bahwa hal itu berasal dari Rabb Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Mengetahui terhadap segala kepentingan hamba-Nya

2.      Beriman dan percaya bahwa allah adalah rabb satu-satunya,tidak sekutu baginya.
Rabb adalah yang memiliki ciptaan, kerajaan, dan perkara. Maka, tiada yang menciptakan kecuali Allah I, tiada yang menjadi raja selain Allah I, dan semua perkara adalah milik-Nya. Makhluk adalah makhluk-Nya, kerajaan adalah kerajaan-Nya, dan perkara adalah perkara-Nya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Mengasihi apabila diminta kasih sayang-Nya, mengampuni apabila diminta ampunan-Nya, memberi apabila diminta, dan mengabulkan bila dimohon. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur

3.      Beriman kkepada uluhiyah allah
Kita mengetahui dan meyakini bahwa hanya Allah I saja ilah yang sebenarnya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya Dia I yang berhak disembah. Dia-lah Rabb semesta alam, ilah alam jagad raya. Kita menyembah-Nya dengan cara yang Dia syari'atkan, disertai kesempurnaan hina kepada-Nya, kesempurnaan cinta dan kesempurnaan pengagungan Kita mengetahui dan meyakini bahwa sebagaimana Allah I Maha Esa dalam rububiyah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, demikian pula Dia Maha Esa pada uluhiyah-Nya, tiada ada sekutu bagi-Nya. Maka, kita hanya menyembah-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya dan kita menjauhi penyembahan kepada selain-Nya

4.      Beriman kepada Asma dan Sifat Allah
Pengertiannya yakni memahaminya, menghapalnya, mengakuinya, menyembah kepada Allah I dengannya, dan mengamalkan tuntutannya. Mengenal sifat-sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Allah I mengisi hati semua hamba dengan rasa takut dan pengagungan terhadap-Nya

Mengenal sifat kemuliaan, kemampuan, kekuasaan mengisi hati dengan sifat hina, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Rabb-nya.  Mengenal sifat-sifat kasih sayang, kebaikan, kemurahan, dan pemberi mengisi hati dangan rasa ingin dan berharap pada karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah I. Mengenal sifat ilmu dan meliputi mengharuskan bagi hamba sifat muraqabah kepada Rabb-nya dalam segala gerakan diamnya. Gabungan semua sifat ini mengharuskan bagi sifat mahabbah (cinta), rindu, tenang, tawakkal, dan mendekatkan diri kepada Allah I saja, tidak ada sekutu bagi-Nya
Kita menetapkan bagi Allah asma` dan sifat yang ditetapkan-Nya untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasulullah r bagi-Nya. Kita beriman kepada asma dan sifat-Nya serta makna dan pengaruh yang terdapat pada asma dan sifat tersebut . Kita beriman bahwa Allah I (Maha Pengasih) dan pengertiannya adalah bahwa Dia mempunyai sifat kasih sayang. Dan di antara pengaruh dari nama ini: bahwa Dia memberikan kasih sayang kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan, seperti inilah penjelasan pada nama-nama yang lain. Kita menetapkan hal itu berdasarkan atas sifat dan asma` yang pantas bagi kebesaran Allah  tanpa ada tahrif (mengubah lafazh dan membelokkan makna sebenarnya), ta'thil (pengingkaran seluruh atau sebagian asma` dan sifat Allah I), takyif (menanyakan bagaimana Allah I), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-nya)
Asma` Allah I Yang Maha Indah Asma` Allah I mengindikasikan atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma’ diambil dari sifat. Maka, ia adalah asma` dan sifat, karena sebab itulah ia menjadi indah. Mengetahui Allah I, asma dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling agung dan paling wajib. Di antara asma` Allah I adalah Allah: yaitu yang dituhankan, yang disembah, dicintai, diagungkan oleh semua makhluk, tunduk bagi-Nya dan kembali kepada-Nya dalam segala kebutuhan

1.      Ar-Rahman ar-Rahim: Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: yang rahmat-Nya lebih melebihi luas segala sesuatu
2.      Al-Malik: Dia Yang Maha Merajai: yang merajai semua makhluk
3.      Al-Maalik: Dia Yang Maha Memiliki: yang memiliki semua kerajaan, raja-raja dan hamba
4.      Al-maliik: Pemilik Kerajaan:  yang terlaksana perintah-Nya di dalam kerajaan-Nya. Di tangan-Nya kerajaan. Dia memberikan kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambil kerajaan dari orang yang Dia kehendaki
5.      Al-Quddus (Yang Maha Suci): yang maha suci dari kekurangan dan cela, yang diberikan sifat dengan sifat kesempurnaan
6.      As-Salaam (Yang Memberi Keselamatan, Yang Melimpahkan kesejahteraan, Yang Terhindar dari segala kekurangan): yang terhindar dari segala cela, penyakit, dan kekurangan
7.      Al-Mukmin (Yang Memberi Keamanan): yang makhluk-Nya aman dari perbuatan zhalim-Nya. Dia menciptakan keamanan dan memberikan keamanan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya
8.      Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara): Yang menyaksikan atas makhluk-Nya dengan apa saja yang bersumber dari mereka, tiada suatu pun yang tidak nampak dari-Nya
9.      Al-'Aziz (Yang Maha Perkasa)": Yang milik-Nya semua keperkasaan.
10.  Al-Jabbar (Yang Maha Kuasa memaksakan semua kehendak-Nya kepada semua makhluk-Nya):
11.  Al-Mutakabbir (Yang Mempunyai segala kebesaran dan keunggulanyaa)
12.  Al-Kabir (Yang Maha Besar):
13.  Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta)
14.  Al-Khallaaq: Yang telah menciptakan dan terus menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya
15.  Al-Bari` (Yang Mengadakan)
16.  Al-Mushawwir (Yang Membentuk rupa)
17.  Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi):
18.  Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rizqi)
19.  Ar-Raziiq (Yang Memberi Rizqi)
20.  Al-Ghafur al-Ghaffar (Yang Maha pengampun)
21.  Al-Ghafir : Yang menutupi dosa hamba-Nya
22.  Al-Qaahir (Yang mempunyai kekuasaan tertinggi):
23.  Al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan)
24.  Al-Fattah (Yang Maha Pemberi Keputusan)
25.  Al-'Aliim (Yang Maha Mengetahui)
26.  Al-Majiid (Yang Maha Mulia/Yang Maha Terpuji)
27.  Ar-Rabb: Yang Maha Memiliki lagi Mengatur (semua makhluk),
28.  Al-'Azhim (Yang Maha Agung)
29.  Al-Waasi' (Yang Maha Luas karunia-Nya)
30.  Al-Karim (Yang Maha Pemurah/Mulia)
31.  Al-Akram (Yang Paling Pemurah)
32.  Al-Waduud (Yang Maha Pengasih)
33.  Al-Muqit (Yang berkuasa memberi rizqi kepada setiap makhluk, )
34.  As-Syakuur (Yang Maha mensyukuri)
35.  Asy-Syakir (Yang Mensyukuri amal kebaikan hamba-Nya)
36.  Al-Lathiif (Yang Maha Halus, Yang Maha lembut terhadap hambanya)
37.  Al-Halim (Yang Maha penyantun )
38.  Al-Khabiir (Yang Maha Mengenal, Yang Maha Mengetahui)
39.  Al-Hafiizh (Yang Maha Pemelihara)
40.  Al-Haafizh: Yang memelihara amal perbuatan hamba dan menjaga)
41.  Ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi)
42.  As-Samii' (Yang Maha Mendengar)
43.  Al-Bashir (Yang Maha Melihat)
44.  Al-'Ali, al-A'la, al-Muta'aal (Yang Maha Tinggi, Yang Paling tinggi)
45.  Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana)
46.  Al-Hakam al-Hakim: Yang diserahkan hukum kepada-Nya
47.  Al-Qayyum (Yang Tegak dan terus menerus mengurus makhluknya)
48.  Al-Wahid, al-Ahad (Yang Satu, Yang Tunggal)
49.  Al-Hayy (Yang Maha Hidup)
50.  Al-Haasib, al-Hasiib (Yang memberi kecukupan dengan kadar yangtepat)
51.  Asy-Syahid (Yang Maha Menyaksikan)
52.  Al-Qawii, al-Matiin (Yang Maha Kuat, Yang Maha Kokoh)
53.  Al-Walii (Yang Melindungi)
54.  Al-Maula: Yang mencintai, menolong, membantu hamba-hambanya)
55.  Al-Hamid (Yang Maha Terpuji)
56.  Al-Shamad(yangf maha sempurna )
57.  Al-Qadiir, al-Qaadir, al-Muqtadir (Yang Maha Kuasa, Yang Maha berkuasa)
58.  Al-Wakiil (Pemelihara, Pelindung )
59.  Al-Kafiil: Yang memelihara segala sesuatu
60.  Al-Ghanii (Yang Maha Kaya )
61.  Al-Haqq, al-Mubiin (Yang Benar)
62.  Al-Mubiin (Yang menjelaskan segala sesuatu menurut hakikat sebenarnya)
63.  An-Nuur (Pemberi Cahaya)
64.  Dzul Jalali wal Ikraam (Yang memiliki kebesaran dan karunia)
65.  Al-Barr (Yang Melimpahkan kebaikan)
66.  At-Tawwab (Yang Maha Penerima taubat)
67.  Al-'Afuww (Yang Maha Pemaaf)
68.  Ar-Rau`uf: Yang memiliki belas kasih. Ar-Ra`fah: kasih sayang
69.  Al-Awwaal: Yang telah ada sebelum segala sesuatu
70.  Al-Akhir: Yang tidak ada sesuatu sesudah-Nya
71.  Azh-Zhahir: Yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya
72.  Al-Warits: Yang tetap ada setelah punahnya semua makhluk-Nya.
73.  Al-Muhith (Yang meliputi terhadap segala sesuatu)
74.  Al-Qariib (Yang Maha Dekat)
75.  Al-Hadi (Yang Maha Pemberi petunjuk)
76.  Al-Badii' (Yang Maha Pencipta )
77.  Al-Faathir: Yang menciptakan semua makhluk
78.  Al-Kaafi (Yang Melindungi hamba-hamba-Nya)
79.  Al-Ghalib: Yang mengalahkan selamanya.
80.  An-Naashir, an-Nashir: Yang menolong para rasul dan parapengikut)
81.  Al-Musta'aan (Yang diminta pertolongan)
82.  Dzul Ma'arij: Yang naik kepada-Nya para malaikat dan ar-Ruh
83.  Dzuth-Thaul: Yang menguraikan karunia, nikmat, dan pemberian
84.  Dzul Fadhl: Yang memiliki segala sesuatu, memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam ni'mat
85.  Ar-Rafiiq (Yang Maha Lembuh, Maha Halus)
86.  Al-Jamiil (Yang Maha Indah)
87.  Ath-Thayyib: Yang Maha Suci dari kekurangan dan cacat
88.  Asy-Syafi (Yang Menyembuhkan)
89.  As-Subbuh: Yang Maha Suci dari cacat dan kekurangan
90.  Al-Witr (Yang Maha Esa, Tunggal, Ganjil):
91.  Ad-Dayyan (Yang Maha Kuasa)
92.  Al-Muqaddim, al-Mu`akhkhir (Yang Mendahulukan, Yangmengakhirkan)
93.  Al-Hannan: Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya
94.  Al-Mannan (Yang Maha Pemberi, Yang Maha Pemurah)
95.  Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan rizqi)
96.  Al-Baasith (Yang Melapangkan rizqi)
97.  Al-Hayii, as-Sittiir: Yang menyukai orang yang pemalu
98.  As-Sayyid: Yang sempurna dalam kepemimpinan, keagungan,
99.  Al-Muhsin: Yang meliputi semua makhluk dengan kebaikan dan karunianya.
Sifat-sifat Allah Menurut Ibn Qayyim sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat terpuji yang seluruhnnya diambil dari Asmaul Husna yang telah mengandung makna Mengenai sifat-sifat Allah ini para ulama menyebutkan sebanyak 41 sifat Allah yakni terdiri dari dua puluh sifat wajib, dua puluh sifat mustahil, dan satu sifat jaiz
Sifat-sifat Wajib Allah Menurut Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam M. Natsir Arsyad (1992:12) mengungkapkan ada dua puluh sifat-sifat Allah, yakni :
1)      Wujud (Ada)
2)      Qidam (Dahulu, Adanya Tidak Didahului Sesuatu Pun)
3)      Baqa’ (Kekal
4)      Mukhalafatuhu Lil Hawadits (Tak Menyerupai Apa Pun
5)      Qiyamuhu Bi Nafsih (Berdiri Sendiri
6)      Wahdaniyah (Maha Esa
7)      Qudrat (Kuasa
8)      Iradah (Berkehendak
9)      Ilmu (Mengetahui
10)  Hayah (Hidup
11)  Sama’ (Mendengar
12)  Bashar (Melihat
13)  Kalam (Berfirman
14)  Qadiran (Selalu Berkuasa
15)  Muridan (Selalu Berkehendak
16)  Aliman (Yang Mengetahui
17)  Hayyan (Yang Hidup
18)  Sami’an (yang selalu mendengar
19)  Bashiran (yang selama melihat
20)  Mutakkallimin (yang senantiasa berkata-kata






















BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Setelah kita membaca makalah diatas dapat disimpulkan bahwa buah Iman kepada Allah adalah :
Ø  Merealisasikan  pengesaan  Allah  Subhanahu  Wa  Ta'ala  sehingga   tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut  kepada  yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya
Ø  Menyempurnakan  kecintaan   terhadap   Allah,  serta   mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi
Ø  Merealisasikan   ibadah   kepada   Allah   dengan   mengerjakan   apa   yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya
Ø  Dengan   kita   mempelajari   Iman   Kepada   Allah   maka   hendaknya   kita meningkatkan  keimanan  dan  taqwa  kita   pada  Allah  SWT  sebagai  bentuk pertanggungjawaban kita sebagai hamba



1 komentar: